Dikejar deadline, berbicara di depan umum,
berada di puncak kemacetan, terbelit masalah keuangan, dan keretakan hubungan,
adalah beberapa hal yang dapat membuat stres. Stres merupakan hal yang tidak
dapat dihindari dalam kehidupan, setiap aktivitas yang kita jalani setiap hari
seolah berpotensi menimbulkan stres. Namun, stres tidak semata-mata merupakan
sesuatu yang bersumber dari luar diri, tetapi juga bagaimana reaksi kita dalam
menghadapinya. Stres dapat didefinisikan sebagai tuntutan penyesuaian yang
membutuhkan respon adaptif kita. Stres akan terjadi bila individu tidak dapat
mengatasi masalah yang disebabkan oleh tekanan yang sedang dialami.
Stres dapat berasal dari faktor eksternal dan faktor
internal. Harga diri yang rendah merupakan salah satu faktor internal timbulnya
stres, individu yang memiliki harga diri rendah menilai kritik yang ringan
terasa mengancam, sebaliknya individu dengan harga diri tinggi memandang kritik
tersebut bermanfaat untuk meningkatkan kemampuannya. Jadi, stres tidak
selamanya buruk, bila kita dapan merespon stres dengan baik, stres justru dapat
meningkatkan kemampuan maupun keterampilan kita dalam melakukan berbagai hal
serta dapat mengubah kehidupan menjadi lebih baik.
Reaksi tubuh terhadap stres dikenal dengan
istilah fight or flight. Reaksi ini dapat berupa perubahan
fisiologis, seperti debar jantung yang cepat, napas terengah-engah, produksi
keringat berlebihan dan tremor, maupun reaksi kejiwaan pada tubuh. Hal ini
disebabkan oleh amigdala yang mengeluarkan hormon sehingga membuat indera
menjadi lebih waspada.
Stres tentunya terasa mengganggu kehidupan kita. Lalu
bagaimana cara menghilangkan stres? Berbagai cara dilakukan untuk menghilangkan
stres, namun hasilnya nihil karena stres terus-menerus datang kembali ke kehidupan
kita. Tidak ada cara yang dapat menuntaskan stres tapi banyak cara yang dapat
menghambat atau menguranginya, seperti cukup tidur, imbangi antara bekerja dan
bermain, atur pola makan sehat dan berolahraga ringan.